Pages

Selasa, 09 Februari 2016

Selamat Hari Pers Nasional

Tahun 2011, jurnalis kawakan Putra Nababan mengisi acaara seminar di kampus saya dengan tema jurnalistik. Saat itu, saya masih ingat betul satu kata yang diucapkan dengan tegas oleh Putra Nababan, "Jangan jadi jurnalis!" ujarnya. Kalimat tersebut diucapkannya dengan lantang kurang lebih tiga kali dengan nada yang tegas. Mahasiswa yang mendengarnya hanya terdiam, Putra Nababan membuat banyak mahasiswa merenung dengan kalimat tersebut. 

Kini lima tahun usai mendengar kalimat Putra Nababan tersebut, saya baru mengerti apa arti kalimat yang ia katakan. Menjadi jurnalis di Indonesia luar biasa menantang. Menantang dalam artian positif dan negatif. Ada pro and cons yang dapat dijabarkan sesuai dengan pengalaman kerja sebagai jurnalis. 

Saya sendiri baru satu tahun selapan bulan menjalani profesi ini, dan merupakan profesi pertama saya di dunia kerja, jadi tentu kurang objektif dan kurang bijaksana dibanding dengan senior-senior saya yang sudah berpuluh tahun menjalani profesi ini. 

Lewat 'kacamata' saya, mari kita bahas soal keuntungan dan kerugian menjadi jurnalis di Indonesia, yang menurut saya penting bagi kalian semua yang ingin mengambil jalur profesi ini.

Negatif jadi jurnalis di Indonesia:
1. Bukan rahasia penghasilan jurnalis di Indonesia tidak besar. Hal ini akhirnya menyebabkan beberapa jurnalis yang menerima atau bahkan berharap 'amplop' saat meliput. 
2. Jam kerja yang panjang. Saat menulis ini saya baru pulang liputan dari Bandung berangkat pukul 9 pagi pulang jam 11 malam. 
3.  Lelah fisik. Penyakit tifus, hepatitis, dan maag dianggap biasa di kalangan jurnalis. 
4. Idealis dan indepedensi diobrak-abrik kepentingan, yang sebagian besar kepentingan tempat kerja. 

Saya sepakat dengan teman saya, ada banyak hal dari jurnalis yang tak dapat dibayar dengan iming-iming angka dan jabatan, yakni dengan keuntungan:
1. Memicu adrenalin yang akhirnya meningkatkan endorfin alias hormon kegembiraan, yang didapat dari proses peliputan berita sampai berakhir berita diapresiasi khalayak.
2. Terpapar akan informasi yang baru tiap hari (at least you learn something everyday)
3. Bertemu narasumber dari lapisan bawah sampai paling atas. (cuma jurnalis yang pagi wawancara tukang becak dan sore wawancara presiden). 
4. Setidaknya tulisan adalah bentuk kontribusi untuk masyarakat dan negara (membuka wawasan orang lain, mencerdaskan orang lain tanpa menggiring opini)
5. Pergi ke berbagai tempat dari dalam sampai luar negeri, gratis. 
6. Munafik kalau saya bilang kartu pers tak ada guna. Kartu ini bahkan lebih sakti ketimbang KTP. Kartu ini ajaibnya memberi efek psikologis, yakni keberanian dan kepercayaan diri dimanapun Anda berada. (maka tak heran banyak jurnalis abal-abal alias bodrek yang mengaku jurnalis asli).  
7. Punya pengaruh penting untuk hajat hidup orang banyak

Lalu apa syarat yang dibutuhkan untuk jadi jurnalis? 
Saya cuma bilang passion. Tanpa passion jangan coba-coba jadi jurnalis. Mungkin pro yang saya tulis lebih banyak ketimbang cons. Tapi coba lihat lagi faktor penghasilan dan fisik yang menjadi kekurangan jurnalis, secara tak langsung itu adalah sumber penghidupan. Tanpa passion tugas terasa begitu berat, hari begitu panjang, tubuh sakit, dan cuma bisa mengeluh lantaran penghasilan yang tak sebanding dengan pekerjaan. 

Harapan para jurnalis Indonesia
Semua jurnalis punya harapan agar kesejahteraanya lebih terjamin, khususnya dari segi penghasilan dan tunjangan yang diberikan perusahaan tempatnya bernaung. Ada hal unik dari media-media di Indonesia, namanya bisnis media tapi si 'ujung tombak' pengisi berita, penghasilannya tak lebih atau sama baik dengan pekerja lainnya.

Sebagai pilar keempat demokrasi, jurnalis punya peran luar biasa berpengaruh dan tanggung jawab besar akan hajat hidup orang banyak. Selamat hari pers nasional kawan-kawan seprofesi yang luar biasa.


   

Senin, 01 Februari 2016

Ke Baduy Dalam, Apa Saja yang Perlu dipersiapkan?

Saya sebenarnya bukan tipe yang menulis "How to get" atau "How much" dalam artikel perjalanan. Tapi percayalah, saya merasa berhutang pada kalian-kalian yang rajin ngeblog dan sangat membantu di tiap perjalanan saya :") *terharu, nangis satu panci. Untuk itu saya seperti punya komitmen untuk menulis proses di tiap perjalanan saya tahun ini.

Nah, tanggal 23-24 Januari 2016 saya baru saja berkunjung ke Baduy dalam. Salah satu suku di Indonesia yang masih menjaga adat budayanya dengan sangat baik. Letaknya di Banten, tak jauh dari Jakarta. Jadi bagi warga Jakarta yang haus (saya juga selalu haus) wisata, terutama wisata budaya, suku Baduy ini sangat saya rekomendasikan.

Cara ke Baduy dalam
Buat kalian yang tak mau ribet, saya rekomendasikan ikut open trip. Harganya berkisar Rp 180.000- Rp 250.000 dengan semua biaya yang sudah ditanggung. (transportasi, akomodasi, makan).

Nah bagi yang ingin berkunjung sendiri, ada baiknya punya kenalan orang Baduy dalam atau luar yang dapat menjadi tour guide atau bahkan tuan rumah. Dengan syarat, kalian tentu harus membawa buah tangan atau uang sekedar ucapan terimakasih.

Cara ke Baduy itu mudah: 

-Naik kereta tujuan Rangkas Bitung (bukan commuter line) harga Rp 5.000
- Sampai stasiun Rangkas Bitung cari mobil angkot elf dengan harga sekitar Rp 25.000 perorangnya (kalau kalian ramai bisa nego harga). Nah sampailah kalian ke Cibologer atau pintu ke Baduy.

Sebelumnya, rute ke Baduy dalam ada tiga, yakni lewat Cibologer via Gazeboh (1) atau jalur Danau (2) dan lewat Cijahe (3). Jalur satu dan dua memakan waktu perjalanan dengan kaki selama kurang lebih empat jam. Sedangkan Cijahe makan waktu satu setengah jam.


Selamat datang di Cibologer! 

Penting untuk dicamkan, dinalar, digalaukan, dan disemedikan (sungguh lebay) jalur satu dan dua bukan jalur yang mudah, apalagi bagi yang jarang olahraga. Sebaliknya yang sudah biasa naik gunung atau olahraga mungkin jalur ini jalur normal. Saya juga sangat merekomendasikan pakai sepatu atau sandal gunung, atau setidaknya sepatu kets.

Saya sendiri lewat jalur satu dan dua. Buat saya tanjakan di Baduy ini macam tanjakan cinta di Semeru, bikin semaput. Orang Baduynya sambil bercanda bilang ke saya ini tanjakan setan. Ada juga turunan Badak via jalur Danu, karena nyrusuk terus kayak Badak.

Faktanya kalau kita berjalan empat jam, orang Baduy hanya butuh waktu satu setengah jam untuk perjalanan rute satu dan dua ini, plus tanpa alas kaki. :''') Mereka bahkan ga keringat pas naik tanjakkan, sedangkan saya keringatnya bisa diperes (jadi sedih ingatnya).

Kemudian sampailah di kampung Baduy dalam. Kampung Baduy dalam ada tiga, yakni Cibeo, Ciketawarna, dan Cikeusik. Biasanya pendatang bisa bermalam di Cibeo atau Cikeusik yang jumlah penduduk dan rumahnya jauh lebih banyak dari Ciketawarna.


Itu saya bukan si buta dari goa hantu 

 Catatan tambahan: bule atau turis asing hanya boleh sampai Baduy dalam, trus yang ngomong orang Baduy rasis siapa? sini biar tak tempeleng (galak mode on). Doi menerima tamu dari berbagai ras, tak terkecuali Tionghua (jadi sebelum pergi temen saya menyampaikan pikiran dan isu-isu negatif perihal kalau Tionghua ga boleh masuk yang ternyata semua salah). Menurut orang Baduy tak menerima bule dan turis asing karena sudah peraturan dari leluhurnya. Nah kalau macam Cinta Laura, yang campuran dan bisa ngomong bahasa Indonesia masih boleh sampai Baduy Dalam.


Kalau jalur gazeboh, pasti melewati empat jembatan bambu tersohor ini

Lanjuuutt, apa saja yang harus dibawa:
1. Sleeping bag (kalau kalian susah tidur di tikar)
2. Ransum makanan (kalau kalian ga ikut open trip)
3. Buah tangan untuk orang Baduy

Di Baduy dalam ada tiga peraturan yang harus kita taati. Pertama tak boleh mandi dengan sampo, sabun, dll (intinya ga boleh mencemari air dengan bahan kimia), kedua tak boleh menyalakan alat elektronik, dan ketiga, dilarang berbuat asusila. Udah itu aja, sisanya kalian boleh jumpalitan, kayang, atau mungkin roll depan roll belakang untuk membuktikan kalian siswa unggulan di pelajaran penjaskes.

Kemudian untuk buah tangan, ada baiknya membawa hal yang bermanfaat bagi orang Baduy, seperti: 
1. Sembako
2. Lilin
3. Terasi
4. Ikan asin (orang Baduy ga suka sarden, ga boleh makan kambing, yang haram juga kalau bisa tidak, itu kasih saya aja) btw Ikan asin peda itu semacam makanan mewahnya nya orang Baduy dalam.
5. Kalau bisa hindari kasih makanan kimiawi apalagi rokok, mereka dilarang

Teman saya Yesu setelah berpikir dengan keras, akhirnya dia bawa martabak. Ya, martabak saudara-saudara. hahhaa, dan ternyata orang Baduy suka. Karena mereka tak pernah buat kue-kuean disana. Teman saya yang lain Andre bawa buah anggur, dan mereka suka sekali. Soalnya ga ada pohon anggur disana.

Untuk uang, saya sebenarnya terserah teman-teman. Tapi kalau saya lebih baik nraktir mereka makan, kasih sembako, dan beli kerajinan tangan yang mereka jual tanpa nawar, daripada kasih uang. Sebab saya takut kalau dibiasaiin mereka jadi mata duitan. Tapi menurut saya terserah kawan-kawan. Kalau menurut kalian bawa sembako susah, atau cinderamata yang dibeli juga ga seberapa, uang juga tak apa-apa. Mereka tak menampik butuh uang. (sesuai suara hati teman-teman).

Nah terakhir saya ingatkan, namanya wisata budaya yang kalian akan dapatkan adalah pengetahuan dan wawasan tentang suku Baduy, bukan soal pemandangan alam (itu bonus). Jadi atur ekspetasi kalian dan jangan lupa untuk mengakrabkan diri dengan orang Baduy. Mereka sangat terbuka, ramah, humoris, dan gak sungkan menjawab segala pertanyaan kita yang bahkan aneh bin di luar nalar (pasti mikir saya dkk nanya apa ya? hahaha).

Patuhi peraturannya, hormati orangnya, dan jangan jadi pejalan yang berjiwa alay. Cukup yang nginjek bunga aja yang alay, kamu jangan #eh. Selamat mengetahui keindahan Indonesia.

Salam cilukba, muaach. *ala Maissy centil. Eh doski apa kabar ya?


Maacih yah kalian cmuah udah mau baca blog 4Qyuuh kayak bapak ibu yang nunggin 4Qyuuh

Foto by: Yesu dan Johan

Minggu, 24 Januari 2016

Belajar Bahagia dari Orang Baduy Dalam

Bajunya boleh cuma warna putih dengan model seadanya, kakinya tak beralas, tasnya hanya menyandang sedikit barang. Penampilannya sederhana sekali, bahkan berbeda dari peradaban sekarang. Tapi mulutnya tak berhenti tersenyum, guyonannya seperti tak berseri.

Itu dia anggapan saya untuk suku Baduy dalam, ditengah modernisasi suku Baduy dalam terus menjunjung tinggi adat istiadatnya tanpa rasa minder dan justru bangga.  

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Baduy dalam di tanggal 23-24 Januari 2016. Saya mengambil open trip Travellova, namun sebelumnya sudah janjian pula dengan seorang suku Baduy dalam, kenalan teman saya bernama Asmin untuk bertemu di Ciboleger. 

Sebenarnya tujuan kedatangan saya paling utama adalah panen duren #sesuatusekaliya. Tugas mulia yang saya emban bagi para pecinta duren di keluarga saya. Saya bahkan membawa dua tupperware yang berujung kosong, karenan musim duren hampir berakhir di Baduy. Namun begitu saya dapat hal yang lebih berharga dari duren, yakni persahabatan dan wawasan. 

Saat di malam saya dan teman-teman (Betty, Stevia, Yesu, Johan, Andre) menginap di rumah Asmin, kami diajak oleh tour leader, Kang Agung untuk mengunjungi Jaro atau pelaksana adat dari Baduy dalam.

Kunjungan ini membuka dialog interaktif antara kami pendatang, dan suku Baduy dalam. Alhasil dari perbincangan tersebut, saya belajar banyak hal, terutama bagaimana orang Baduy dalam tetap dapat bahagia di tengah kesederhanan dan adat mereka. 

Ikutan bahagia sama Aldi, Juli, Asmin 1, dan Asmin 2


Saya bagi dalam beberapa bagian, agar lebih mudah dibaca ya: 

1. Materi atau Kekayaan
"Jaro, sebagai orang Jakarta, kami semua mengejar kekayaan, apakah disini tidak ada rasa ingin memperkaya diri?" 

"Tentu ada", ujar Jaro disambut suku Baduy dalam lainnya. Mereka menjelaskan kalau mereka juga mengejar kekayaan materi alias uang untuk lauk pauk, pesta pernikahan, dan membuat rumah. 

Untuk informasi, lauk pauk paling mewah bagi orang Baduy dalam adalah ikan asin peda, emas kawin Baduy dalam hanya cincin baja putih, dan rumah mereka hanya terbuat anyaman bambu dengan atap daun sagu. Coba kita pikir lagi, materi apa yang sekarang kita kejar?

2. Politik
"Jaro kenapa Baduy dalam memilih untuk golput?"

Prinsip orang baduy adalah mendukung siapapun yang menang, karena menurut mereka politik itu riweuh. "Daripada mengharapkan satu orang untuk menang, kemudian tak menang dan hasilnya sakit hati," ujar Jaro. 

Dari sudut pandang saya, masuknya politik dapat memecah belah penduduk desa jadi kelompok partai pendukung, belum lagi kampanye kotor yang akan masuk. Leluhur Baduy dalam nampaknya sangat cerdas dan berpikir jauh ke depan dalam membuat peraturan. 

3. Jodoh
"Bagaimana cara menikah di Baduy dalam?"

Baduy dalam hanya mengenal monogami dan tak boleh ada perceraian, kecuali karena maut. Mereka menikah dari perjodohan. Bisa dari usia 5 tahun atau bisa juga dari dalam kandungan. Namun perjodohan tak bersifat memaksa, orang tua akan bertanya dahulu pada anak maukah dijodohkan, jika sudah jawab mau, tak ada kata batal. Jatuh cinta di suku Baduy dalam ada, tapi hanya sedikit.

Proses lamarannya ada tiga tahap dan dilakukan dalam satu tahun. Tahap 1-3 tersebut meliputi masing-masing pasangan yang di tes bekerja di ladang oleh orang tua atau calon mertua. Prosesi pernikahan berlangsung tiga hari-tiga malam. "Kalau pesta kawin bisa potong 200 ayam, itu uangnya buat beli itu (menjawab pertanyaan saya no. 1)" kata Asmin sambil bercanda. 

Setidaknya para jomblowan dan jomblowati di Baduy dalam lebih tenang daripada di Ibukota.

4. Agama
"Jaro, pernakahah ada pemuka agama yang mencoba mengenalkan agamanya disini?"

"Sering sekali, dari dahulu selalu ada",tutur Jaro. Baduy dalam memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan, dimana mereka percaya Tuhan cuma satu yakni Gusti Allah, namun mereka menyembah nenek moyang mereka yang percaya, Nabi Adam. "Semua agama sama saja mengajarkan kebaikan, yang penting mah urangnya," celetuk salah satu suku Baduy dalam.

Jadi saya rasa banyak orang yang kenal peradaban tak lebih beradab dari orang Baduy dalam.

5. Soal pengunjung yang membludak di Baduy dalam
"Jaro, begitu banyak pengunjung bisa sampai ratusan, apakah tak keberatan?"

"Tidak apa-apa kita memang harus membangun persaudaraan" kemudian Jaro ingatkan bagi pengunjung untuk ingat tiga aturan utama bagi pengunjung, pertama jangan memotret, kedua jangan berbuat asusila, dan jangan mencemari air dengan bahan kimia,"  

Kesimpulan akhir, Baduy dalam mengingatkan saya kalau kebutuhan manusia pada dasarnya hanya sandang, pangan, dan papan. Soal jodoh tak perlu khawatir, dan tempatkan diri pada posisi terbaik untuk kedamaian. Bangga dan bersyukur dengan apa yang ada. Saya sangat merekomendasikan semuanya untuk berkunjung dan mengenal suku Baduy lebih dalam lagi :)


Sabtu, 16 Januari 2016

Perfect Couple As You Wish

Heylooohh, It's me. I was wondering blog saya udah basi atau belum? (*sambil karaoke Adele). Selamat tahun baru ya guys! walau ini sebenarnya uda pertengahan Januari sih ya. Hahahaa. Semoga dapat menjadi manusia yang lebih baik dan berbahagia di tahun 2016. 

Jadi artikel awal untuk tahun 2016 ini adalah tentang pasangan sempurna pilihan Anda. Berat ya? Soalnya kalau kata Bunda Dorce kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kata Andra & The Back Bone sempurna itu milik "Kau" yang ambigu. 

Tak ada manusia sempurna, tapi sebagian dari kita membuat syarat-syarat pasangan yang menuju sempurna. Bener gak tuh? Saya sendiri punya syarat pasangan yang banyak diketawain sama teman-teman saya. Syarat pasangan pertama walau bukan terutama adalah jreng jreng jreng... bisa makan babi. Hahahaa, 

Sebagian orang menganggap ini freak atau lelucon. Tapi serius deh, cobain jadi orang Tionghua dimana orang tua kamu pertama pasti nanya agama pasangan. Bukan kerjaan, bukan asal, dan bukan jenis kelaminya! Terserah mau nilai rasis atau ngak, tapi ini udah jadi akar budaya. Saya sendiri sering merasa krisis identitas sebagai Tionghua yang sering dikira bukan Tionghua tapi suka banget makan babi.  

Sampai ketika dinas luar kota di Pontianak, engko tukang Kwacap (sejenis kwetiauw dgn toping kulit babi goreng) bingung manggil saya Kak, Ci, atau Sus (emang bencong). Dia bahkan ragu mau hidangin kwacap ke saya atau nga. Justru jadi saya yang kasihan melihat dia penuh keraguan begitu...

Skip dari dunia perbabian.... yang mau difokuskan adalah syarat pasangan, terutama yang dinilai dari seorang wanita. Men, buat saya jadi cewe tuh gak gampang looh. Menurut penelitian, cowo di negara manapun dihakimi oleh pendapatan atau kesuksesan kariermya. Sedangkan cewe dihakimi dari penampilannya, dan saya sungguh benci itu. 

Ada tanggapan "ah dia cantik tapi sayang bego" atau "Pinter sih, tapi ga pinter ngerawat diri" atau "Udah jelek, bego, idup lagi" (yang terakhir Afgan-Sadis). 

Saya pernah membaca tulisan salah satu blogger favorit saya, Henry Manampiring. Di artikelnya yang udah lumayan lama, Henry bilang kalau cari cewe yang cerdas, baik hati, dan cantik dalam satu kemasan komplit atau kalau di KFC itu udah disebut paket hemat, hot, special. Itu agaknya mustahil. 

Henry memaparkan konfigurasi 3B (Brain, beauty, behaviour) yang ada di kehidupan nyata. Ketika saya baca saya takjub, seperti ini: 

1. Cewek cantik + otak cerdas = biasanya tak baik hati
2. Cewek cerdas + baik hati = biasanya kurang cantik
3. Cewek baik hati + cantik = biasanya kurang cerdas

Ketika saya pikir-pikir lagi, saya ulik dan analisa secara mendalam sambil makan dan nonton film (Oke mode serius) yang Henry bilang itu benar! Seriusan benar. Bahkan selebriti papan atas yang dipuja banyak orang, pemenang kontes kecantikan yang pernah saya temuin dan wawancara langsung ga ada yang benar-benar memenuhi konsep Beauty, Brain, Behaviour. 

Tapi gak mustahil ada wanita dengan 3B komplit. Saya punya teman namanya Elizabeth Wijaya memenuhi konsep itu. Ini bukan bualan saya doang. Temen saya yang lain sepakat kalau doski yang selalu juara kelas kalo nga juara satu atau dua, muka macam artis, dan hati bagai marshmellow, ditambah solehanya minta ampun membuat dia jadi bibit unggul cewek-cewek Indonesia. (PS: Saya ga jualan temen ya) 

Jadi guys, menurut saya nonsense ketika mengidamkan wanita yang cantik, cerdas, dan baik hati dalam satu paket. Sama halnya juga dengan wanita, mustahil mengidamkan pria sempurna kalau kita tak punya paket komplit Brain, Beauty, Behaviour. Tapi jangan berkecil hati. Pasangan sempurna tetap ada kok, kalau kita mau menerima kekurangan orang tersebut. (Ih, saya jadi mual baca tulisan sendiri). 

sumberfoto: balconyrow



ciao bella,
Silvi-ta Agmasari yang sedang ngidam bakmie toping babi berlimpah ruah

Rabu, 16 Desember 2015

Jualan Komplit di Jakarta

Kota ini lucu. Berbagai macam barang dijual

Berbagai macam hal dapat dibeli 

Dari kitab suci sampai pedang dijajakan

Dari obat sampai racun dapat dibayar

Dari kehormatan sampai nyawa semua ada, semua sedia

Penjualnya beragam, dari kerah longgar dan keriting sampai kerah putih dan kaku

Kau mau apa? Disini ada. Paket komplit, spesial, atau panas, tinggal pilih di Jakarta. 

Asal kau berduit, senanglah kau di Jakarta 


                                                                                                       
                                                                                                     Dari pengamatan si penjual tulisan



Minggu, 01 November 2015

Surat untuk yang Sedang Bekerja

Dear teman-teman seperjuangan, 

Saat si dunia kerja, kita semua pasti bertemu banyak orang. Akan ada orang yang selalu lebih cerdas, skillnya lebih baik, dan lebih lancar bicaranya dari kita. Jangan kaget kawan, meski awalnya pasti membuat gentar.

Jangan minder teman, ada yang lebih berharga dari itu semua. Percayalah IQ tinggi jika tak diimbangi dengan EQ alias kecerdasan emosional sama saja bohong.

Ketahuilah kelebihan dan kekurangan dirimu terlebih dahulu. Lepas dari itu, pelajari kelebihan dan kekurangan orang lain. Nanti kita akan tahu, mana kawan mana lawan. Meski lebih baik jangan pernah jadi lawan. Tapi jika sudah terpaksa, mau tidak mau akan ada kompetisi.

Ambisi boleh kawan, kita perlu ambisi untuk lebih maju. Tapi  kadarnya diatur. Jangan sampai ambisimu menyakiti orang lain.

Jangan lupa bersyukur kawan, keluh cuman menambah peluh. Tak pernah beres kerjamu, karena tak sepenuh hati dikerjakan. Semangat kawanku pekerjaan tak seindah yang dipikir tak seburuk yang dilakukan. Tapi akan jauh lebih bahagia jika dikerjakan dengan hati.


Tepat Memperingati 1 Tahun 5 Bulan Kerja,

Salam ketawa manis. 

Jumat, 16 Oktober 2015

Kejahatan Jender. Kenapa Korbannya Selalu Wanita?

Tulisan kali ini sebenarnya lebih karena artikel-artikel kekerasan seksual dan kejahatan jender yang saya baca di media internasional. Ada beberapa yang akhirnya saya terjemahkan untuk artikel di kantor. Tapi yang pasti, artikel setrika payudara ini yang paling membekas. Ini link untuk terjemahan bahasa Indonesianya yang sudah saya lansir:


Buat saya sebagai seorang wanita, luar biasa miris mengetahui adanya aksi kejahatan jender seperti setrika payudara dan FGM (Female Genital Mutilation). Untuk yang belum tahu, singkatnya setrika payudara itu adalah tradisi di beberapa negara Afrika untuk meratakan payudara seorang gadis yang sedang puber. Medium setrika, bukanlah setrika listrik tapi lebih kepada batu, bambu, atau juga besi yang dipanaskan dengan api kemudian seperti setrika, digosok ke payudara. 

Tujan setrika payudara ini adalah membuat payudara jadi rata, karena payduara dianggap sebagai pemikat pria yang menimbulkan hawa nafsu. Pelaku setrika payudara mayoritas adalah ibu dari para gadis yang beranggapan bahwa tindakan itu melindungi anaknya dari pemerkosaan. 

setrika payudara sumber acelabrationofwomen


Mirip dengan setrika payudara, FGM itu adalah sunat untuk wanita, yang biasanya dilakukan saat masih bayi atau kanak-kanak. Hal yang paling mirisnya sunat ini dilakukan atas dasar lambang kesucian dan kehormatan seorang wanita, Bukan cuma di Afrika, di negara Timur Tengah, bahkan di Indonesia sendiri prosedur FGM ini masih terjadi. Padahal jika dilihat dari segi medis, dua tindakan diatas justru sangat berbahaya dan merugikan, bahaya infeksi, kanker, dan masih banyak lainnya mengintai para gadis ini  

Ga sampai logika saya untuk mencermati apa yang salah dari payudara atau vagina seorang wanita? Rasanya payudara atau vagina bukan cuma berfungsi atau lambang seksual. Payudara itu adalah medium ASI dan vagina ini medium melahirkan anak. Kenapa orang-orang dengan teganya bilang payudara dan vagina itu porno. Padahal ia lahir dari sana, minum dari sana. 

Kenapa selalu wanita yang jadi korban kejahatan jender macam ini. Kenapa wanita yang harus melakukan preventif pemerkosaan. Bukannya pencegahan juga harusnya dilakukan ke pria? Kadang sudah diperkosapun wanita masih yang salah dan menerima ganjaran jauh lebih berat dari si pemerkosa. Kenapa dunia masih jauh dari kata aman dan adil untuk wanita?  

Salah seorang kawan pria yang saya ceritakan tentang setrika payudara ini berkata, "Kenapa tidak alat kelamin pria itu saja yang dipanasin untuk menahan hawa nafsunya, biar tak perkosa orang?" Kalau saja banyak pria yang pikirannya sama dengan teman saya ini mungkin dunia lebih baik.